Keutamaan Bersedekah

🌟 1. Pahala Dilipatgandakan

Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan. Setiap amal shalih—termasuk sedekah—dilipatgandakan pahalanya oleh Allah ﷻ.
Dalil Al-Qur’an:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji…”
(QS. Al-Baqarah: 261)
dari Al-Qur'an
2. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ dikenal sangat dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.
Hadits:
“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan…”
(HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)
🌟 3. Menghapus Dosa

Sedekah menjadi sebab diampuninya dosa-dosa, terlebih bila dilakukan di bulan penuh ampunan.
Hadits:
“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.”
(HR. Tirmidzi)
4. Mendapat Naungan di Hari Kiamat

Di hari yang sangat panas dan menegangkan, orang yang bersedekah dengan ikhlas mendapat keistimewaan besar.
Hadits:
“…dan seseorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
5. Menumbuhkan Kepedulian & Ukhuwah

Puasa mengajarkan empati terhadap orang yang kekurangan, dan sedekah menjadi bukti nyata kepedulian sosial seorang muslim.
6. Melapangkan Rezeki & Menenangkan Hati

Sedekah tidak mengurangi harta, justru membuka pintu rezeki dan keberkahan.
Hadits:
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Keutamaan Bulan Ramadan

1️⃣ Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 185. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Oleh karena itu, Ramadan disebut juga sebagai Syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an). Maka sudah sepatutnya kita memperbanyak membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an di bulan ini.

2️⃣ Bulan Penuh Ampunan

Rasulullah SAW bersabda bahwa barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ramadan adalah momentum untuk:

Bertaubat dengan sungguh-sungguh

Memperbaiki shalat

Memperbanyak istighfar

Meninggalkan maksiat

Jangan sampai Ramadan berlalu, tetapi dosa kita masih tetap sama.

3️⃣ Pahala Dilipatgandakan

Di bulan Ramadan, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Bahkan tidur orang yang berpuasa bernilai ibadah, dan doanya mustajab, terutama saat berbuka.

Bayangkan, sedekah kecil saja bisa bernilai besar di sisi Allah. Maka jangan sia-siakan kesempatan emas ini.

4️⃣ Terdapat Malam Lailatul Qadar

Di dalam Ramadan terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini nilainya lebih baik daripada 83 tahun ibadah.

Barang siapa mendapatkan malam tersebut dengan ibadah yang sungguh-sungguh, maka ia mendapatkan keberuntungan yang luar biasa.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

3 Kunci Meraih Rahmat-Nya

-Ramadhan sebagai “Proyek Akhirat” Menuju Derajat Takwa
Ramadhan tidak boleh dipandang sekadar sebagai tradisi atau nostalgia tahunan, melainkan sebuah momentum transformasi ruhani yang spektakuler nilainya.

Tujuan utama atau goal tertinggi dari seluruh rangkaian ibadah di bulan ini adalah mencapai derajat takwa sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam Al-Baqarah ayat 183 berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang beriman, telah diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” [Al-Baqarah/2:183].

Persiapan untuk proyek ini dimulai dengan meluruskan niat, memurnikan tauhid, dan melakukan taubat yang sungguh-sungguh sebelum memasuki gerbang Ramadhan.

-Menghidupkan Kembali Kedekatan dengan Al-Qur’an
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, namun ironisnya banyak orang justru lebih sibuk dengan tontonan dan media sosial. Pentingnya menjadi hamba yang akrab dengan Kalamullah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307).

Artinya, yang tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mentadabburi, menangis saat membacanya, dan mengamalkan isinya agar hati tidak kering dari ayat-ayat Allah

-Manifestasi Empati dan Persaudaraan Iman (Ukhuwah):
Puasa bertujuan agar kita merasakan lapar sehingga timbul empati kepada mereka yang kelaparan. Ramadhan adalah waktu untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Kita juga perlu membuang dendam, serta menguatkan ikatan ukhuwah dengan mendoakan dan membantu saudara-saudara muslim yang tertindas, khususnya di Gaza.

Kepedulian ini merupakan konsekuensi nyata dari akidah bahwa setiap mukmin adalah satu tubuh yang saling merasakan sakit jika ada bagian lain yang terluka.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Marhaban Ya Ramadan 1447 H/2026 M

MARHABAN YA RAMADHAN 1447 H
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah ﷻ yang kembali mempertemukan kita dengan bulan suci penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan Ramadan adalah madrasah iman, momentum memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, serta meningkatkan kepedulian dan amal salehDi bulan inilah doa-doa dilangitkan, Al-Qur’an didekatkan, dan hati-hati dilembutkan oleh taubat dan dzikir Semoga Allah
-Memberikan kesehatan dan kekuatan kepada kita semua
-Memudahkan kita dalam berpuasa dan beribadah
-Menjadikan Ramadan tahun ini lebih baik dari sebelumnya
-Menghimpun kita dalam limpahan rahmat dan ampunan-Nya
Mari sambut Raadan dengan hati yang bersih, niat yang tulus, dan semangat untuk memperbanyak kebaikan. Semoga setiap langkah kita bernilai ibadah dan setiap amal dilipatgandakan pahalanya Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1447 H Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita. Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn 
Ditulis pada Uncategorized | Komentar Dinonaktifkan pada Marhaban Ya Ramadan 1447 H/2026 M

Siapkah Kita Menyambut Ramadan?

Siapkah Kita Menyambut Ramadan?

كانَ عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ: طُوبَى لِمَنْ أَصْلَحَ نَفْسَهُ قَبْلَ رَمَضَانَ.

Amr bin Qais rahimahullah, berkata, "Beruntunglah orang yang memperbaiki dirinya sebelum datangnya Ramadan." (Lathâ’if al-Ma‘ârif)

Fawā’id:

1. Perkataan Amr bin Qais ini menunjukkan bahwa menyambut Ramadan bukan sekadar menunggu datangnya bulan itu, tetapi merupakan proses persiapan panjang yang harus dimulai jauh-jauh hari. Seorang hamba yang mulai memperbaiki dirinya sebelum Ramadan akan memasuki bulan mulia tersebut dalam kondisi hati yang lebih siap, lebih bersih, dan lebih mudah menerima taufik dari Allah. Persiapan dini akan membuat ibadah yang dikerjakan saat Ramadan lebih tulus, lebih fokus, dan lebih berkesan.

2. Ucapan ini juga mengajarkan bahwa perbaikan diri tidak terjadi secara tiba-tiba saat Ramadan, tetapi merupakan proses bertahap yang memerlukan latihan sebelumnya. Orang yang terbiasa malas membaca Al-Qur’an misalnya, tidak akan seketika menjadi rajin pada hari-hari Ramadan. Karena itu, mengawali perbaikan sebelum Ramadan menjadikan perubahan itu lebih kuat, lebih stabil, dan lebih mudah dipertahankan setelah Ramadan berakhir.

3. Hikmah lain yang diambil adalah bahwa Ramadan adalah puncak musim kebaikan, dan setiap puncak membutuhkan landasan. Landasan untuk meraih keutamaan Ramadan adalah memperbaiki diri sebelumnya. Seorang pedagang yang ingin untung besar akan mempersiapkan modal dan strategi jauh hari, demikian pula seorang hamba yang ingin meraih pahala sebesar-besarnya di Ramadan harus menyiapkan hati, amalan, dan kebiasaan baik terlebih dahulu.

4. Perkataan ini menanamkan kesadaran bahwa keberuntungan seorang hamba yang digambarkan dengan kata “طوبى” bergantung pada kesiapan spiritualnya sebelum Ramadan. Betapa banyak orang yang masuk Ramadan tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus, karena mereka masuk tanpa persiapan, penuh kelalaian, dan hati yang masih disibukkan dengan dunia. Sebaliknya, keberuntungan besar akan didapat oleh siapa saja yang membersihkan jiwanya terlebih dahulu.

5. Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa para salaf sangat menghargai waktu dan musim kebaikan. Mereka tidak menunggu Ramadan tiba untuk berubah, tetapi sudah memulai perubahan sebelum musim itu datang. Ini menunjukkan kedalaman ilmu mereka tentang nilai waktu dan tingginya ambisi mereka dalam meraih ridha Allah. Perubahan yang ditunda-tunda menunjukkan lemahnya tekad, sedangkan perubahan yang disegerakan menunjukkan keseriusan menuju Allah.

6. Ucapan ini juga menegur secara halus orang-orang yang hanya berubah saat Ramadan, namun kembali lalai setelahnya. Ketika Amr bin Qais mengatakan “Beruntunglah orang yang memperbaiki dirinya sebelum Ramadan,” beliau sedang mengingatkan bahwa orang yang perubahan dirinya hanya terjadi di Ramadan saja belum tentu termasuk yang beruntung. Yang beruntung adalah yang memulai perjalanan perubahan itu sebelum Ramadan dan melanjutkannya setelah Ramadan.

7. Faidah berikutnya adalah bahwa persiapan sebelum Ramadan mencakup perbaikan hati, amal saleh, serta meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Jika seseorang masuk Ramadan dengan hati yang masih kotor, penuh dendam, iri, kebiasaan buruk, atau kelalaian, maka Ramadan tidak akan maksimal baginya. Membersihkan hati sebelum Ramadan adalah bentuk adab terhadap musim ibadah terbesar umat Islam dan menunjukkan kesiapan untuk menerima limpahan rahmat Allah.

8. Selain itu, perkataan ini menekankan bahwa amal sebelum Ramadan adalah pemanasan spiritual. Seperti seorang atlet yang membutuhkan pemanasan sebelum bertanding, seorang hamba membutuhkan pemanasan ruhani agar saat Ramadan tiba ia tidak terbata-bata memulai ibadah, tetapi sudah siap berlari dalam kebaikan. Persiapan inilah yang membuat seseorang mampu melaksanakan ibadah-ibadah besar Ramadan seperti qiyamullail, tilawah intensif, dan sedekah dengan penuh kekuatan.

9. Faidah lainnya adalah bahwa orang yang memperbaiki dirinya sebelum Ramadan akan merasakan manisnya ibadah ketika Ramadan berlangsung. Karena ia telah melatih dirinya sebelumnya, maka jiwanya akan lebih ringan, lebih lapang, dan lebih mudah menikmati ibadah. Sebaliknya, orang yang tidak bersiap sebelum Ramadan seringkali merasa berat, malas, dan memaksakan diri, sehingga ia kehilangan kelezatan spiritual yang seharusnya ia dapatkan selama Ramadan.

10. Ucapan ini juga menunjukkan bahwa perbaikan diri adalah pekerjaan sepanjang tahun, tetapi puncaknya adalah ketika menjelang Ramadan. Allah memberikan kesempatan kepada setiap hamba untuk memulai perubahan kapan saja, namun memberikan hadiah besar di Ramadan bagi mereka yang sudah mempersiapkan diri. Ini menegaskan bahwa perubahan hakiki adalah perubahan yang dimulai sebelum momen puncak, bukan perubahan yang sekadar ikut-ikutan ketika semua orang sedang bersemangat.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tasmi Al-Qur’an 1 Juz

Live Tasmi 1 Juz (29)
Arzayna Qiannah
Kelas 6B
Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tasmi’ 2 juz

Live Tasmi 2 Juz (29 & 30)
Auliya Ramadhani Idris
Kelas 4B

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tasmi’ Al-qur’an

Live Tasmi 2 Juz (29 & 30)
Fakhira Ramli
Kelas 6B

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tasmi’ Al-Quran

Tasmi' 2 juz (29&30) sekali duduk
Farid Athailla
Kelas 4A
https://www.youtube.com/watch?v=MGbrar8CKhw

Ditulis pada Uncategorized | Komentar Dinonaktifkan pada Tasmi’ Al-Quran