
Siapkah Kita Menyambut Ramadan?
كانَ عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ: طُوبَى لِمَنْ أَصْلَحَ نَفْسَهُ قَبْلَ رَمَضَانَ.
Amr bin Qais rahimahullah, berkata, “Beruntunglah orang yang memperbaiki dirinya sebelum datangnya Ramadan.” (Lathâ’if al-Ma‘ârif)
Fawā’id:
1. Perkataan Amr bin Qais ini menunjukkan bahwa menyambut Ramadan bukan sekadar menunggu datangnya bulan itu, tetapi merupakan proses persiapan panjang yang harus dimulai jauh-jauh hari. Seorang hamba yang mulai memperbaiki dirinya sebelum Ramadan akan memasuki bulan mulia tersebut dalam kondisi hati yang lebih siap, lebih bersih, dan lebih mudah menerima taufik dari Allah. Persiapan dini akan membuat ibadah yang dikerjakan saat Ramadan lebih tulus, lebih fokus, dan lebih berkesan.
2. Ucapan ini juga mengajarkan bahwa perbaikan diri tidak terjadi secara tiba-tiba saat Ramadan, tetapi merupakan proses bertahap yang memerlukan latihan sebelumnya. Orang yang terbiasa malas membaca Al-Qur’an misalnya, tidak akan seketika menjadi rajin pada hari-hari Ramadan. Karena itu, mengawali perbaikan sebelum Ramadan menjadikan perubahan itu lebih kuat, lebih stabil, dan lebih mudah dipertahankan setelah Ramadan berakhir.
3. Hikmah lain yang diambil adalah bahwa Ramadan adalah puncak musim kebaikan, dan setiap puncak membutuhkan landasan. Landasan untuk meraih keutamaan Ramadan adalah memperbaiki diri sebelumnya. Seorang pedagang yang ingin untung besar akan mempersiapkan modal dan strategi jauh hari, demikian pula seorang hamba yang ingin meraih pahala sebesar-besarnya di Ramadan harus menyiapkan hati, amalan, dan kebiasaan baik terlebih dahulu.
4. Perkataan ini menanamkan kesadaran bahwa keberuntungan seorang hamba yang digambarkan dengan kata “طوبى” bergantung pada kesiapan spiritualnya sebelum Ramadan. Betapa banyak orang yang masuk Ramadan tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus, karena mereka masuk tanpa persiapan, penuh kelalaian, dan hati yang masih disibukkan dengan dunia. Sebaliknya, keberuntungan besar akan didapat oleh siapa saja yang membersihkan jiwanya terlebih dahulu.
5. Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa para salaf sangat menghargai waktu dan musim kebaikan. Mereka tidak menunggu Ramadan tiba untuk berubah, tetapi sudah memulai perubahan sebelum musim itu datang. Ini menunjukkan kedalaman ilmu mereka tentang nilai waktu dan tingginya ambisi mereka dalam meraih ridha Allah. Perubahan yang ditunda-tunda menunjukkan lemahnya tekad, sedangkan perubahan yang disegerakan menunjukkan keseriusan menuju Allah.
6. Ucapan ini juga menegur secara halus orang-orang yang hanya berubah saat Ramadan, namun kembali lalai setelahnya. Ketika Amr bin Qais mengatakan “Beruntunglah orang yang memperbaiki dirinya sebelum Ramadan,” beliau sedang mengingatkan bahwa orang yang perubahan dirinya hanya terjadi di Ramadan saja belum tentu termasuk yang beruntung. Yang beruntung adalah yang memulai perjalanan perubahan itu sebelum Ramadan dan melanjutkannya setelah Ramadan.
7. Faidah berikutnya adalah bahwa persiapan sebelum Ramadan mencakup perbaikan hati, amal saleh, serta meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Jika seseorang masuk Ramadan dengan hati yang masih kotor, penuh dendam, iri, kebiasaan buruk, atau kelalaian, maka Ramadan tidak akan maksimal baginya. Membersihkan hati sebelum Ramadan adalah bentuk adab terhadap musim ibadah terbesar umat Islam dan menunjukkan kesiapan untuk menerima limpahan rahmat Allah.
8. Selain itu, perkataan ini menekankan bahwa amal sebelum Ramadan adalah pemanasan spiritual. Seperti seorang atlet yang membutuhkan pemanasan sebelum bertanding, seorang hamba membutuhkan pemanasan ruhani agar saat Ramadan tiba ia tidak terbata-bata memulai ibadah, tetapi sudah siap berlari dalam kebaikan. Persiapan inilah yang membuat seseorang mampu melaksanakan ibadah-ibadah besar Ramadan seperti qiyamullail, tilawah intensif, dan sedekah dengan penuh kekuatan.
9. Faidah lainnya adalah bahwa orang yang memperbaiki dirinya sebelum Ramadan akan merasakan manisnya ibadah ketika Ramadan berlangsung. Karena ia telah melatih dirinya sebelumnya, maka jiwanya akan lebih ringan, lebih lapang, dan lebih mudah menikmati ibadah. Sebaliknya, orang yang tidak bersiap sebelum Ramadan seringkali merasa berat, malas, dan memaksakan diri, sehingga ia kehilangan kelezatan spiritual yang seharusnya ia dapatkan selama Ramadan.
10. Ucapan ini juga menunjukkan bahwa perbaikan diri adalah pekerjaan sepanjang tahun, tetapi puncaknya adalah ketika menjelang Ramadan. Allah memberikan kesempatan kepada setiap hamba untuk memulai perubahan kapan saja, namun memberikan hadiah besar di Ramadan bagi mereka yang sudah mempersiapkan diri. Ini menegaskan bahwa perubahan hakiki adalah perubahan yang dimulai sebelum momen puncak, bukan perubahan yang sekadar ikut-ikutan ketika semua orang sedang bersemangat.

